TFCA Archives | HaKI Perkumpulan Hutan Kita Institute Mon, 15 Aug 2022 03:59:29 +0000 en-US hourly 1 https://hutaninstitute.or.id/wp-content/uploads/2025/09/cropped-haki-logo-32x32.png TFCA Archives | HaKI 32 32 Gajah Sumatera Terancam Terfragmentasi https://hutaninstitute.or.id/gajah-sumatera-terancam-terfragmentasi/ Mon, 15 Aug 2022 03:45:12 +0000 https://hutaninstitute.or.id/?p=5425 Di Indonesia terdapat dua subspesies Gajah Asia (Elephas maximus) yang eksistensinya masih dapat dijumpai di alam, yakni Gajah Sumatra (Elephas Maximus Sumatranus) dan Gajah Kalimantan (Elephas Maximus Borneensis). Namun keduanya berstatus terancam punah konservasi yang jelas. Gajah Sumatera merupakan spesies penyandang status terancam punah atau critically endangered, berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN) […]

The post Gajah Sumatera Terancam Terfragmentasi appeared first on HaKI.

]]>
Di Indonesia terdapat dua subspesies Gajah Asia (Elephas maximus) yang eksistensinya masih dapat dijumpai di alam, yakni Gajah Sumatra (Elephas Maximus Sumatranus) dan Gajah Kalimantan (Elephas Maximus Borneensis). Namun keduanya berstatus terancam punah konservasi yang jelas.

Gajah Sumatera merupakan spesies penyandang status terancam punah atau critically endangered, berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red list atau daftar merah Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam.

Sumatera Selatan adalah salah satu daerah yang memiliki kantong habitat Gajah Sumatera terbanyak. Salah satunya di Habitat Lalan Sembilang yang menjadi daerah penelitian Hutan Kita Institute (HaKI) – Tropical Forest Conservation Action (TFCA).

Jalur jelalah Gajah Sumatera kantong Lalan – Sembilang Sumatera Selatan. dok. HaKI

Penelitian untuk melengkapi informasi populasi Gajah Sumatera dalam hal ini terkait keragaman genetis DNA Gajah di kantong Sungai Lalan Sembilang ini melibatkan MIPA Biologi UNSRI, Taman Nasional Brebak Sembilang, BKSDA Sumatera Selatan, dan perusahaan sekitar.

Menurut Prasetyo, informasi habitat dan populasi gajah sangat penting untuk merencanakan konservasi spesies terancam punah itu sendiri.”Pada 2019, telah teridentifikasi populasi gajah di Lalan Sembilang sebanyak 22 individu, dimana identifikasi ini dilakukan untuk mengetahui jumlah individu serta daya dukung pakannya,” kata Staf HaKI yang akrab disapa Pras.

penelitian-gajah-sumatera-lalan-sembilang-3
Pengambilan sampel feses gajah di lalan-sembilang oleh tim peneliti.

Terancamnya Gajah Sumatra, lanjut Pras, terjadi karena terganggunya habitat gajah oleh penebangan liar, pembukaan lahan, dan izin investasi berbasis lahan, seperti perkebunan, tambang, IUPHHK hutan alam, dan hutan tanaman.

“Karena gangguan pada habitat, populasi Gajah terfragmentasi, terpecah menjadi kelompok yang lebih kecil dan terjadi perkawinan sedarah yang akan mengancam keberlangsungan populasi gajah dalam jangka panjang,” jelasnya.

Pras melanjutkan, kerusakan dan gangguan pada habitat Gajah juga yang menyebabkan terjadinya konflik gajah dengan manusia hal ini sangat berkaitan wilayah jelajah dari Gajah tersebut. “Seperti halnya gajah di Lalan Sembilang sudah beberapa kali memasuki lahan milik masyarakat yang berada di Kecamatan Karang Agung Ilir dan Lalan,” tambahnya.

Gajah Sumatera di kantong Lalan Sembilang Sumatera Selatan

Menurut Pras, dengan adanya penelitian dan informasi yang baik ini dapat menjadi pijakan langkah dalam melakukan pengelolaan konservasi gajah sumatra yang lebih jelas oleh para pihak, dan menjadi model untuk penelitian dan konservasi ditempat lainnya.

Sumatera Selatan merupakan salah satu daerah yang memiliki kantong habitat gajah terbanyak di Sumatera. Adapun kantong habitat Gajah Sumatra lainnya di Sumatera Selatan yakni Gunung Raya Selatan, Sugihan Sipanghera, Merati Sungai Kapas, Bukit Jambul Nanti Patah, Mesuji, Subandriji, dan Benakat Semangus. (*)

The post Gajah Sumatera Terancam Terfragmentasi appeared first on HaKI.

]]>
Harimau Sumatera Tertangkap Kamera Penjebak https://hutaninstitute.or.id/harimau-sumatera-tertangkap-kamera-penjebak-2/ Thu, 18 Jun 2020 05:39:53 +0000 https://hutaninstitute.or.id/?p=4766 hutaninstitute.or.id_ Pelaksanaan  pemantauan Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) melalui pemasangan dan pelepasan kamera trap telah dilakukan, kegiatan yang melibatkan berbagai pihak baik dari instansi, NGO dan mahasiswa tergabung dalam Kelompok Kerja (Pokja) Pemantau Satwa, berhasil mendapatkan foto Harimau Sumatera Prasetyo Widodo Staff HaKI sebagai kordinator Lapangan KiBASS mengatakan  dalam pemantauan sebelumnya aktifitas utamanya adalah pemasangan […]

The post Harimau Sumatera Tertangkap Kamera Penjebak appeared first on HaKI.

]]>
kamera Penjebak berhasil merekam keberadaan Harimau Sumatera di Taman Nasional Sembilang, Foto By Haki

hutaninstitute.or.id_ Pelaksanaan  pemantauan Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) melalui pemasangan dan pelepasan kamera trap telah dilakukan, kegiatan yang melibatkan berbagai pihak baik dari instansi, NGO dan mahasiswa tergabung dalam Kelompok Kerja (Pokja) Pemantau Satwa, berhasil mendapatkan foto Harimau Sumatera

Prasetyo Widodo Staff HaKI sebagai kordinator Lapangan KiBASS mengatakan  dalam pemantauan sebelumnya aktifitas utamanya adalah pemasangan kamera penjebak, pemasangan kamera penjebak yang dipasangan  ada 24 unit tersebar di  12 titik.

“Kamera yang tersebar di 12 titik tersebut  yang telah terpasang  akan di lepas dimana minimal jangka waktu pelepasan adalah 40 (empatpuluh) hari, ,”ungkapnya

Pemasangan Kamera Penjebak, yang di lakukan Tim Pokja di Kawasan Taman Nasional Sembilang

Prasetyo menerangkan setelah melakukan pelepasan Kamera Penjebak, data yang di dapat dapat di analisis mengenai keberadaan Harimau Sumatera di sekitar Wilayah SPTN II Sembilang TNBS.  “Harapan yang keluar dari kegiatan Adanya dokumen tentang kegiatan dan analisis data terkait perekaman oleh kamera penjebak,”ujarnya.

Berlian Pratama salah satu anggota Pokja dari hutan Kita Institute  (HaKI) mengatakan  Pada periode ini kami mencoba mengidentifikasi keberadaan Harimau Sumatera di daerah tengah sembilang dimana sebelumnya belum pernah dilakukan survei diwilayah tengah Sembilang

Pria yang sehari- hari bekerja di HaKI mengatakan  pelepasan kamera trap dilaksanakan setelah kamera terpasang lebih dari 40 (empat puluh) hari dimana keberadaan Harimau Sumatera terutama di wilayah SPTN II Sungsang Sembilang telah terekam kehadiran melalui kamera penjebak.

Berlian juga menjelaskan dari 24 pasang kamera penjebak hanya 1 pasang yang dapat merekam kehadiran satwa tersebut di lokasi Sungai Simpang Satu, selain penampakan foto Harimau Sumatra terekam juga kehadiran satwa mamalia lainnya seperti Rusa Sambar (Rusa unicolor) Beruang Madu (Helarctos malayanus) dan Kera Ekor Panjang (Maccaca Muscularis).

“Kamera Penjebak yang dipasang di daerah Sungai Simpang Satu berhasil merekam gambar seekor Harimau Sumatera, dimana lokasi tempat dipasangnya kamera penjebak merupakan wilayah lahan basah dan sebagian besar tertutup oleh hutan mangrove dan lokasi tersbut belum perna di pasang kamera penjebak  tepatnya di bagian tengah dari kawasan sembilang,”ungkapnya.

Bagus dari  ZSL Tim Tiger  salah satu anggota Pokja mengatakan hanya wilayah Sungai Simpang Satu yang berpotensi memiliki kantong-kantong habitat harimau sumatera, hal ini dikarenakan potensi satwa mangsa dari spesies karnivora langka banyak tersebar di daerah ini yang terekam oleh kamera penjebak seperti Rusa Sambar, Babi Hutan dan lain lain.

“akan tetapi kondisi wilayah Resort Solok Buntu walau tidak terekam kehadiran Harimau Sumatera tersebut tetapi catatan konflik antara petambak dengan Harimau tersebut menjadi tolak ukur dalam pemasangan kamera penjebak di areal tersebut,”Ujarnya

Disamping itu kehadiran satwa mangsa di areal resort Solok Buntu melalui kehadiran jejak satwa mangsa kemungkinan kehadiran si predator tersebut.

Selain harimau sumatera, spesies mamalia lainnya yang terekam dikamera penjebak adalah beruang madu. Ditemukan diwilayah sungai simpang satu. Selain gambar di kamera penjebak tim juga menemukan jejak atau tanda beruang madu secara langsung.


Berdasarkan hasil kamera penjebak dari survei ini, terdapat kemungkinan tinggi penambahan jumlah spesies yang tidak terekam atau tertangkap kamera. Hal itu dikarenakan penambahan jumlah spesies masih dilakukan pada sekitar 40an hari.

Bagus menambahkan perlunya adanya penambahan durasi waktu untuk pemasangan kamera penjebak menjadi 60 hari. Hal ini dilakukan untuk melihat potensi-potensi satwa lainnya agar terekam dikamera penjebak. Sehingga ditemukan spesies mamalia yang dilindungi lainnya.

Hasil ini juga menunjukkan bahwa zona penyangga kawasan Sembilang masih memiliki  keanekaragaman hayati yang tinggi walaupun dengan kelimpahan yang rendah. Hutan yang terus tumbuh antara taman nasional dan zona penyangga akan memungkinan satwa liar berpindah diantara wilayah ini. Selama musim hujan pada lantai hutan ditaman nasional, terdapat beberapa spesies seperti beruang madu dapat berpindah ke daerah yang kering di zona penyangga.

Bagus menyarankan  kedepannya yang perlu dilakukan oleh tim pokja ini adalah adalah melakukan penyelesaian analisis data dari kegiatan tahap I berdasarkan hasil dari kamera penyebak serta melakukan evaluasi tentang aktivitas terkait metode di lapangan untuk mendapatkan data yang akurat.

Teks : Jadid

Editor : Jua

The post Harimau Sumatera Tertangkap Kamera Penjebak appeared first on HaKI.

]]>
Berdayakan Masyarakat dengan Kemitraan Konservasi https://hutaninstitute.or.id/berdayakan-masyarakat-dengan-kemitraan-konservasi/ Wed, 02 Jan 2019 04:22:08 +0000 https://hutaninstitute.or.id/id_id/?p=3663 Harapan tersebut tentu tidaklah sekedar menjadi harapan. Salah satu jalan mewujudkan harapan tersebut melalui kemitraan konservasi, yakni kemitraan kehutanan di dalam kawasan konservasi dengan kerjasama antar unit pengelola kawasan atau pemegang izin pada kawasan konservasi dengan masyarakat setempat. Tentulah kerjasama ini berdasarkan prinsip saling menghargai, saling percaya, dan saling menguntungkan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan […]

The post Berdayakan Masyarakat dengan Kemitraan Konservasi appeared first on HaKI.

]]>
Harapan tersebut tentu tidaklah sekedar menjadi harapan. Salah satu jalan mewujudkan harapan tersebut melalui kemitraan konservasi, yakni kemitraan kehutanan di dalam kawasan konservasi dengan kerjasama antar unit pengelola kawasan atau pemegang izin pada kawasan konservasi dengan masyarakat setempat. Tentulah kerjasama ini berdasarkan prinsip saling menghargai, saling percaya, dan saling menguntungkan.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah mengeluarkan kebijakan Perhutanan Sosial untuk mendekatkan masyarakat dengan hutan, melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) merancang satu peraturan tentang Petunjuk Teknis (Juknis) Tata Cara Kemitraan Konservasi Pada Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestraian Alam (KPA) yang tertuang dalam Perdirjen KSDAE Nomor 6 Tahun 2108.

Adanya Juknis ini diharapkan mampu mempercepat terwujudnya kemitraan antara Unit Pelaksana Teknis (UPT) kawasan konservasi yaitu Taman Nasional Berbak dan Sembilang dengan masyarakat di sekitar dan di dalam Kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS). Peraturan baru ini sekaligus melengkapi ketentuan-ketentuan yang sudah ada sebelumnya tentang penyelenggaraan kerja sama dan kemitraan dalam pengelolaan kawasan konservasi.

Mewujudkan perlindungan yang efektif bagi kawasan konservasi memang pekerjaan yang membutuhkan dukungan kerja sama yang kuat. Begitu besar tantangan yang berakar dari masalah kemiskinan setempat, pengaruh dari luar, serta terbatasnya keterampilan dan akses masyarakat lokal.

Turut mewujudkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat dalam rangka penguatan tata kelola dan fungsi kawasan konservasi dan kelestarian keanekaragaman hayati, Konsorsium Bentang Alam Sembilang Sumsel (KiBASS) melakuan pemberdayaan masyarakat di sekitar Taman Nasional Sembilang.

Pemberdayaan masyarakat yang dilakukan KiBASS, diantaranya berupaya meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan, perilaku, kemampuan, kesadaran, serta memanfaatkan sumber daya melalui penerapan kebijakan, program, kegiatan, dan pendampingan yang sesuai dengan esensi masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat.

Pendekatan yang berbasis masyarakat dengan menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dilakukan karena upaya penegakan hukum ternyata tidak mampu menyelesaikan masalah. Bahkan pendekatan ini sudah tidak lagi dijadikan panglimanya. Apalagi jika mengingat konflik laten berkaitan dengan tata batas dan sejarah tenurial setempat, masalah jadi tidak sesederhana hitam dan putih.

 

The post Berdayakan Masyarakat dengan Kemitraan Konservasi appeared first on HaKI.

]]>
Sulit Temukan Buaya Pemalu ‘Senyulong’ https://hutaninstitute.or.id/sulit-temukan-buaya-pemalu-senyulong/ Wed, 02 Jan 2019 03:57:25 +0000 https://hutaninstitute.or.id/?p=4070 hutaninstitute.or.id Nampaknya sangat sulit sekali menemukan dan melakukan perjumpaan langsung terhadap Buaya Senyulong apa lagi mendapatkan foto penampakannya secara utuh, ini terlihat dari hasil pemantauan Tahap III hanya tiga individu yang teramati. satu individu berukuran 1 meter dan dua individu anakan. Bayu Prima dari KiBASS salah satu anggota Pokja Pemantau Buaya mengatakan kegiatan survei ini […]

The post Sulit Temukan Buaya Pemalu ‘Senyulong’ appeared first on HaKI.

]]>

hutaninstitute.or.id Nampaknya sangat sulit sekali menemukan dan melakukan perjumpaan langsung terhadap Buaya Senyulong apa lagi mendapatkan foto penampakannya secara utuh, ini terlihat dari hasil pemantauan Tahap III hanya tiga individu yang teramati. satu individu berukuran 1 meter dan dua individu anakan.

Bayu Prima dari KiBASS salah satu anggota Pokja Pemantau Buaya mengatakan kegiatan survei ini kita lakukan mulai dari Muara Hilir sungai benuh hingga ke bagian hulu dan dari Muara Sungai Simpang Kanan namun untuk ke hulu Sungai Simpang sangat sulit dikarenakan rendahnya permukaan air sungai di bulan September. ”kita sangat sulit mencapai hulu sungai dikarenakan surut,” ungkap Bayu.

Tim Pemantauan Buaya menangkap siluet mata diduga Buaya Senyulong

“Sangat sulit sekali medan yang kita tempuh, harus melewati pasang surut untuk menemukan Buaya jenis ini,”ujar Bayu.

Kedua sungai ini terdiri dari hutan sekunder yang telah terbakar atau ditebang dalam beberapa tingkatan yang masih menyimpan hutan rawa gambut yang relatif utuh.

Bayu menambahkan tim pemantau melakukan aktivitas pemantauan disiang dan malam hari dengan menentukan posko di bagan ½ pada kediaman Pak Andre dan keluarga dikarenakan penemuan satu individu Buaya Senyulong pada aktivitas pemantau sebelumnya berda disekitar kediaman keluarga tersebut.

Sama seperti kegiatan sebelumnya pemantauan diawali dengan melakukan metode tidak langsung menggali informasi dari masyarakat sekitar dan nelayan yang beraktivitas mencari ikan, ”ungkapnya.

Kemudian tim bergerak menuju ke hulu Sungai Simpang Kanan sampai pada terakhir bagan untuk pemantauan hari pertama, hari ke dua tim pemantau melakukan pemantauan terfokus pada muara sungai simpang kanan, bagan 6 sampai bagan ½, dan hari ke tiga tim melakukan pencarian sarang pada aliran sungai rasau dimalam harinya melanjutkan lagi pemantauan terfokus dengan membagi dua tim yaitu tim pertama memantau dari bagan ½ sampai muara sungai simpang kanan dan tim ke dua memantai dari bagan ½ menuju ke arah batas vegetasi nipah. 

The post Sulit Temukan Buaya Pemalu ‘Senyulong’ appeared first on HaKI.

]]>
‘Berburu’ Burung Migran di Kawasan TN Sembilang https://hutaninstitute.or.id/berburu-burung-migran-di-kawasan-tn-sembilang/ https://hutaninstitute.or.id/berburu-burung-migran-di-kawasan-tn-sembilang/#respond Wed, 01 Nov 2017 06:11:44 +0000 https://hutaninstitute.or.id/?p=1035 Taman Nasional Sembilang adalah taman nasional yang terletak di pesisir provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Taman nasional di Sumatera Selatan ini memiliki luas sebesar 2.051 km². Taman Nasional Sembilang merupakan perwakilan hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar, dan hutan riparian (tepi sungai) di Propinsi Sumatera Selatan. Pesisir dan kawasan hutan, terutama di Sembilang dan Semenanjung Banyuasin, […]

The post ‘Berburu’ Burung Migran di Kawasan TN Sembilang appeared first on HaKI.

]]>
Taman Nasional Sembilang adalah taman nasional yang terletak di pesisir provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Taman nasional di Sumatera Selatan ini memiliki luas sebesar 2.051 km². Taman Nasional Sembilang merupakan perwakilan hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar, dan hutan riparian (tepi sungai) di Propinsi Sumatera Selatan.

Pesisir dan kawasan hutan, terutama di Sembilang dan Semenanjung Banyuasin, merupakan habitat bagi harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), gajah Asia (Elephas maximus sumatranus), Malayan tapir (Tapirus indicus), siamang (Hylobates syndactylus syndactylus), kucing emas (Catopuma temminckii temminckii), rusa sambar (Cervus unicolor equinus), buaya air asin (Crocodylus porosus), ikan Sembilang (Plotusus canius), penyu air tawar raksasa (Chitra indica), lumba-lumba air tawar (Orcaella brevirostris) dan berbagai jenis burung.

Pemantauan Burung di Sungai Barong yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang.

Pada bulan september kemarin, Tim Hutan Kita Institute bekerjasama dengan Taman Nasional Berbak Sembilang melakukan pemantauan burung migran di sembilan (9) lokasi untuk mengetahui jumlah burung dari siberia itu. Jumlah total individu yang berhasil terdokumentasi adalah + 5.468 burung migran dan + 3703 burung lainnya

Tercatat, sekitar 14 jenis  burung dengan total 5.468 individu yang sudah teridentifikasi  Sebut saja Burung laut ekor hitam (Limosa limosa), Gagang bayam timur(Himantopus leucocephalus),  trinil kaki merah (Tringa totanus),  hingga Gajahan (Numenius spp)

Grafik 1. Hasil pengamatan burung migran tahap pertama dengan jumlah ditemukan dengan setiap jenisnya

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari grafik diatas menunjukan bahwa Jenis yang paling dominan bertemu adalah Limosa limosa atau yang dikenal dengan Biru-laut ekor hitam yang banyak ditemukan di wilayah sungai siput lebih dari 2.500 individu. Untuk urutan kedua dari jenis yang berhasil teridentifikasi adalah Gagang bayam timur lebih dari 374 individu lebih yang hanya ditemukan dilokasi tambak di wilayah solok buntu.Sedangkan jenis ketiga yang ditemukan adalah jenis trinil kaki merah dengan jumlah pertemuan 350 ekor.

Selama kegiatan pemantauan burung migran, jenis burung trinil terutama trinil kaki merah banyak tersebar di sepanjang semanjung pesisir banyuasin. Sedangkan Trinil pantai yang beberapa ekor saja teramati dilokasi sungai barong kecil dan muara sungai sembilang. Trinil Lumpur asia dengan nama latin Limnodromus semipalmatus hanya ditemukan di muara dan pesisir sungai barong dan begitu juga dengan Trinil kaki-hijau ditemukan lebih kurang sekitar 30 ekor.

Burung Gagang Bayam Timur

Burung Trinil-lumpur

 

 

 

 

 

 

Pertemuan jenis ganggang bayam timur pada pemantauan tahap awal ini di wilayah Sungai Barong kecil terutama wilayah tambak cukup banyak dibanding dengan hasil survey sebelumnya pada bulan Juli 2016, dimana pada tahun tersebut hanya ditemukan 176 individu sedangkan pada pemantauan kali ini berjumlah 374. Ganggang bayam ini merupakan spesies burung dari family Recurvirostridae, dan jenis burung ini adalah pemakan invertebrata kecil serta biasanya berada di habitat rawa payau, rawa tawar, danau dangkal, tepi sungai, sawah, beting lumpur serta tambak garam. Berdasarkan hasil pengamatan Juli 2016 bahwa ada dua individu yang masih mengerami telur dibagian tengah yang tidak tergenang oleh di bekas tambak di Sungai Barong

Berdasarkan data di grafik 2 terlihat bahwa jumlah pertemuan yang paling tinggi berada di Sungai Siput dengan dominasi dari jenis Limosa limosa dengan jumlah 2.500 individu, yang diikuti jenis Limosa lapponica sebanyak 200 individu dan yang tidak teridentifikasi 500 individu. Belum diketahui secara pasti keberadaan burung lebih banyak di temukan sungai siput akan tetapi hal ini bisa dikarenakan faktor makanan yang masih melimpah di areal sungai tersebut dan habitatnya tidak mendapat gangguan.

 

The post ‘Berburu’ Burung Migran di Kawasan TN Sembilang appeared first on HaKI.

]]>
https://hutaninstitute.or.id/berburu-burung-migran-di-kawasan-tn-sembilang/feed/ 0
Foto: Burung Pantai Yang Bermigrasi Ke Sembilang https://hutaninstitute.or.id/foto-burung-pantai-yang-bermigrasi-ke-sembilang/ https://hutaninstitute.or.id/foto-burung-pantai-yang-bermigrasi-ke-sembilang/#respond Sun, 29 Oct 2017 02:18:04 +0000 https://hutaninstitute.or.id/?p=1027 Belahan Bumi utara mulai memasuki musim dingin, sumber makanan terus berkurang. Saat itu jutaan burung melakukan tradisi tahunannya, terbang ke belahan Bumi selatan. Pengembaraan ini yang kita kenal dengan sebutan migrasi burung atau migratory bird. Alasan kuat kenapa burung-burung bermigrasi adalah bukan menghindari suhu dingin semata, tetapi juga mencari makan untuk melangsungkan hidupnya. Suhu dingin […]

The post Foto: Burung Pantai Yang Bermigrasi Ke Sembilang appeared first on HaKI.

]]>
Belahan Bumi utara mulai memasuki musim dingin, sumber makanan terus berkurang. Saat itu jutaan burung melakukan tradisi tahunannya, terbang ke belahan Bumi selatan. Pengembaraan ini yang kita kenal dengan sebutan migrasi burung atau migratory bird.

Alasan kuat kenapa burung-burung bermigrasi adalah bukan menghindari suhu dingin semata, tetapi juga mencari makan untuk melangsungkan hidupnya. Suhu dingin mengakibatkan cadangan makanan mereka berkurang.

Salah Satu tujuan migrasi para burung dari utara adalah Semenanjung Banyuasin, Wilayah Taman Nasional Berbak Sembilang. Terdapat 80 Spesies burung dari 36 Family, 10 Spesies mamalia serta 13 spesies herpetofauna yang teridentifikasi.

Kawasan TN Berbak Sembilang terutama di wilayah SPTN II Sungsang-Sembilang merupakan wilayah singgah dari burung-burung migran. Dimana burung migran ini merupakan kelompok burung yang berkembang dan tinggal selama beberapa bulan disuatu tempat, kemudian menghabiskan waktu lainnya di suatu tempat lain yang berbeda. Dari kondisi ini perlu di lakukan kegiatan pemantauan secara reguler terhadap kondisi habitat dan populasi burung migran dan juga tidak mengabaikan keberadaan jenis kelompok burung air yang lainnya.

The post Foto: Burung Pantai Yang Bermigrasi Ke Sembilang appeared first on HaKI.

]]>
https://hutaninstitute.or.id/foto-burung-pantai-yang-bermigrasi-ke-sembilang/feed/ 0