HaKI https://hutaninstitute.or.id/ Perkumpulan Hutan Kita Institute Sat, 03 Jan 2026 07:49:56 +0000 en-US hourly 1 https://hutaninstitute.or.id/wp-content/uploads/2025/09/cropped-haki-logo-32x32.png HaKI https://hutaninstitute.or.id/ 32 32 Bencana Tidak Jatuh Dari Langit https://hutaninstitute.or.id/bencana-tidak-jatuh-dari-langit-degradasi-hutan-sumatera-selatan/ Tue, 30 Dec 2025 14:16:09 +0000 https://hutaninstitute.or.id/?p=7852 Sekelumit Catatan Hutan Sumatera Selatan Tahun 1990-2024 Ketika bencana menerjang, narasi yang muncul sering kali beragam. Perubahan iklim dengan cuaca extrimnya atau bahkan bencana itu adalah azab yang turun dari langit. Namun data tutupam lahan bercerita lain, degradasi hutan berlangsung sejak lama, menyimpan luka yang tidak dipulihkan dan peringatan akan bencana yang akan datang. Bencana […]

The post Bencana Tidak Jatuh Dari Langit appeared first on HaKI.

]]>
Sekelumit Catatan Hutan Sumatera Selatan Tahun 1990-2024

Ketika bencana menerjang, narasi yang muncul sering kali beragam. Perubahan iklim dengan cuaca extrimnya atau bahkan bencana itu adalah azab yang turun dari langit. Namun data tutupam lahan bercerita lain, degradasi hutan berlangsung sejak lama, menyimpan luka yang tidak dipulihkan dan peringatan akan bencana yang akan datang.

Bencana banjir bandang dan longsor yang meninpa Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat tidak terjadi dengan sendirinya. Hilangnya hutan di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, diperkirakan Analis Tim Jurnalis Data Kompas, seluas 139 lapangan sepak bola setiap harinya semenjak tahun 1990.

Tahun 1990, data dari laman pemetaan Map Biomas Indonesia menunjukkan, masih ada 9,49 juta hektar hutan. Tahun 2024 berkurang menjadi 8,26 juta hektar. Penyusutan area hutan tertinggi terjadi di Sumut, yakni 500.404 hektar. Adapun penyusutan hutan di Aceh 379.309 hektar dan Sumbar 354.651 hektar.

Ketika curah hujan meningkat dan hutan menghilang atau menurun daya ekologisnya, maka kanopi yang dapat menampung air hujan menipis dan tanah mengeras dengan kemamuan menyerap air berkurang drastis. Degradasi hutan terjadi bertahun-tahun, nyaris tidak terasa. Namun justru inilah bahayanya. Air hujan tidak lagi tertahan kanopi hutan dan terserap baik oleh tanah. Air melaju cepat dari hulu ke hilir, membawa sedimen, lumpur dan material lainnya, menjadi penyebab banjir bandang dan logsor.

Cerita Hutan Sumsel

Degradasi hutan juga terjadi di daerah-daerah lain. Tim Analis Hutan Kita Institute (HaKI) menoleh ke Sumatera Selatan, pada tahun 1990 Sumatera Selatan memiliki hutan seluas 2,79 juta hektar atau 32,2 persen, yang terdiri dari hutan alam, rawa gambut, dan mangrove.

Namun pada tahun 2024, tinggal 1,18 juta hektar hutan di Sumatera Selatan. Artinya, dalam tiga dekade lebih 57 persen hutan di Sumsel terdegradasi. Degradasi terbesar terjadi pada hutan rawa gambut sekitar 88 persen, dari 636 ribu hektar pada 1990 menjadi 76,3 ribu hektar pada 2024. Sedangkan hutan alam menyusut 53 persen dari 1,999 juta hektar menjadi 935 ribu hektar pada periode yang sama. Sementara hutan mangrove mengalami peningkatan dari 168 ribu hektar menjadi 170 ribu hektar.

Expansi Sawit dan Kebun Kayu
Degradasi hutan tidak selalu berupa pembabatan total. Transisi kawasan hutan menjadi tanaman non hutan, semak, lahan terbuka, pertambangan, pertanian dan perkebunan skala luas. Transisi tutupan lahan Sumsel bergerak menuju ekspansi perkebunan sawit dan kebun kayu/ Hutan Tanaman Industri (HTI).

Selama periode 1990-2024, data Map Biomas Indonesia menunjukan 55,9 persen atau sekitar 1,87 juta hektar berubah menjadi sawit dan kebun kayu. Sedangkan, 30,1 persen transisi, atau sekitar 1 juta hektar, menunjukkan perubahan langsung dari hutan atau vegetasi menjadi pertanian dan non-vegetasi. Artinya, lebih dari 86 persen perubahan lahan bersifat melemahkan fungsi ekologis. Sebaliknya, arah pemulihan hanya mencakup 10,8 persen, itupun sebagian besar berupa regenerasi vegetasi muda atau semak belukar.
Data ini menegaskan satu hal: lanskap Sumatera Selatan bergerak menuju kehancuran hutan, dan peringatan bencana ekologi yang akan datang.

Potret Akhir
Kondisi tutupan lahan Sumsel pada akhir tahun 2024 menunjukkan sekitar 69,5 persen wilayah telah menjadi perkebunan dan pertanian, hutan tersisa sekitar 13,6 persen. Sisanya tumbuhan non-hutan sekitar 12,8 persen, non vegetasi 2,4 persen, dan tubuh air 1,6 persen.

Perkebunan monokultur, tumbuhan non hutan, dan lahan terbuka jelas sekali menghilangkan fungsi ekologi hutan. Dalam hal ini menyerap dan mengatur aliran air yang turun dari langit. Tajuk hutan yang hilang menjadi homogen, sistem drainase buatan, serta tanah yang memadat. Hal ini membuat air hujan mengalir lebih cepat membawa sedimen dan meningkakan resiko bencana ekologis, banjir dan tanah longsor.

Hutan yang tersisa pun dipertanyakan. Apakah kawasan yang tampak sebagai ‘hutan’ sudah terfragmentasi dan menurun kualitasnya. Kondisi Sumsel diperparah menyusutnya hutan rawa gambut secara masif. Hutan rawa gambut, ekosistem kunci pengaturan air telah menyusut tajam dengan kemampuan menyimpan air. Ini juga menjadi alarm bencana ekologis lainnya.

Data Map Biomas menceritakan tentang deforestasi dan degradasi hutan terus terjadi. Hilang dan rapuhnya hutan yang sudah terlanjut tidak pulih dengan sendirinya. menyimpan resiko dan pemicu. Sepertihalnya hujan extrim yang hanya menjadi pemantik bencana ekologi, akibat dari cerita panjang deforestasi dan degradasi hutan selama ini. (*)

The post Bencana Tidak Jatuh Dari Langit appeared first on HaKI.

]]>
Teori Setetes Air di Daun https://hutaninstitute.or.id/teori-setetes-air-di-daun/ Fri, 12 Dec 2025 07:19:28 +0000 https://hutaninstitute.or.id/?p=7845 Teori setetes air di daun belum menjadi teori ilmiah, melainkan sebuah metafora untuk memudahkan kita memahai terjadinya banjir bandang akibat penggundulan hutan. Untuk menjadi teori ilmiah tentu diperlukan riset yang mendalam oleh para ahli. Teori ini juga bukan tentang hidrologi harfiah, tetapi tentang bagaimana akumulasi kecil, yang tampaknya tidak signifikan, dapat mencapai titik kritis dan melepaskan kekuatan […]

The post Teori Setetes Air di Daun appeared first on HaKI.

]]>
Teori setetes air di daun belum menjadi teori ilmiah, melainkan sebuah metafora untuk memudahkan kita memahai terjadinya banjir bandang akibat penggundulan hutan. Untuk menjadi teori ilmiah tentu diperlukan riset yang mendalam oleh para ahli.

Teori ini juga bukan tentang hidrologi harfiah, tetapi tentang bagaimana akumulasi kecil, yang tampaknya tidak signifikan, dapat mencapai titik kritis dan melepaskan kekuatan yang luar biasa.

Banjir bandang terjadi ketika curah hujan yang sangat lebat melebihi kemampuan lahan dan sistem drainase alami untuk menyerap atau menampung air. Air yang tidak terserap akan menjadi aliran permukaan yang cepat dan kuat, mengumpulkan material lain seperti kayu, batu, lumpur, dan puing-puing di sepanjang jalurnya, menciptakan kekuatan yang merusak. 

Hutan sering disebut sebagai spons raksasa alami, sebuah analogi yang secara intuitif dipahami banyak orang. Fungsi hutan dalam siklus hidrologi sangat krusial, terutama dalam mengurangi risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang. Namun, bagaimana tepatnya proses ini bekerja? Mari kita bedah melalui sebuah ilustrasi sederhana: Teori setetes air di daun.

Mekanisme Intersepsi Hujan

Ketika hujan turun, air tidak langsung jatuh ke tanah. Tetesan air pertama kali mengenai kanopi hutan, daun, ranting, dahan, dan batang pohon. Proses ini disebut intersepsi hujan (interception). Setiap permukaan tanaman bertindak sebagai penghalang sementara yang menahan laju air.

Sebuah hutan alam seluas satu hektar mempunyai kurang lebih 100 pohon besar, 1000 pohon kecil dan sedang, Semak dan tumbuhan rendah, tumbuhan bawah, lumut jamur dan mikroorganisme, serasah, humus, sistem perakaran, selain tofografi dan fakor faktor fisik lainnya.

Membedah Hipotesis: Perhitungan Volume Air yang Tertahan

Konsep yang diangkat mengusulkan perhitungan sederhana namun kuat tentang kapasitas retensi air di tajuk pohon besar hingga permukaan tanah. Mari kita ikuti alur logikanya:

  • Asumsi Dasar: 1 daun menampung sekitar 1 cc (1 mililiter) air (melalui intersepsi dan tegangan permukaan).
  • Per Ranting: 1 ranting memiliki 100 daun = 100 cc air.
  • Per dahan: 1 dahan memiliki 10 ranting = 1000 cc air atau 1 liter
  • Per cabang pohon: memiliki 10 dahan = 10.000 cc atau 10 liter air
  • Per Pohon: memiliki 10 cabang pohon = 100.000  atau 100 liter air
  • Per Hektare (ha): Dalam 1 hektare hutan, terdapat 100 pohon besar = 10.000 liter air hujan yang mampu ditahan.

Berdasarkan perhitungan kumulatif ini, diperoleh angka fantastis: 1 hektare hutan mampu menahan 10.000 liter air hujan (atau 10 meter kubik air) hanya pada permukaan daun dan struktur kanopi pohon besar.

Angka ini mungkin bervariasi tergantung jenis pohon dan intensitas hujan, tetapi inti dari perhitungan ini valid: struktur fisik hutan ini merupakan lapisan pertama yang menahan air hujan jatuh ke bumi.

Anatomi “Spons” Hutan: Lebih dari Sekadar Daun

Kapasitas hutan dalam mengelola air jauh melampaui sekadar tetesan air di daun. Hutan adalah ekosistem yang kompleks, dan setiap komponen memainkan peran penting dalam mitigasi banjir dan penyerapan air.

Struktur hutan yang berfungsi sebagai penahan air meliputi:

  1. Kanopi (Daun, Dahan, dan Ranting): Ini adalah garis pertahanan pertama. Proses ini disebut intersepsi, di mana air hujan tertahan sementara di permukaan daun dan kulit kayu sebelum menguap kembali ke atmosfer atau menetes perlahan ke tanah (melalui stemflow atau throughfall). Ini memperlambat waktu tempuh air ke permukaan tanah.
  2. Pohon kecil, Tumbuhan merambat, dan Semak. Lapisan ini berada di tengah meski beberapa pohon kecil dan liana bisa menjadi kanopi hutan. Meski tutupannya tidak sebesar kanopi pohon besar namun dengan jumlah diatas 1000 individu per hektar sangat berarti dalam menahan air hujan.
  3. Tumbuhan Bawah, Lumut, dan Jamur: Vegetasi di lantai hutan ini menambah lapisan penyerapan dan memperlambat aliran air permukaan.
  4. Serasah dan Humus: Lapisan bahan organik mati di dasar hutan (daun kering, ranting tumbang) berfungsi seperti mulsa alami. Lapisan ini sangat berpori, menyerap air dengan cepat, mengurangi erosi, dan menjaga kelembapan tanah.
  5. Sistem Perakaran: Jaringan akar yang rumit menciptakan pori-pori dan saluran dalam tanah (makropori), memungkinkan air meresap jauh ke dalam tanah (infiltrasi) untuk mengisi ulang akuifer air tanah, bukan mengalir di permukaan (limpasan permukaan).

Lima komponen utama dalam hutan tersebut masing masing berperan sebagai penahan laju air hujan yang jatuh ke bumi. Bila kita berasumsi masing-masing komponen memberikan kontribusi yang kurang lebih sama maka ada 500.000 liter atau 500 kubik air yang mampu di tahan oleh hutan per hektar pada saat hujan turun. Ini belum termasuk factor fisik seperti kegemburan tanah, tofografi dan lain-lain

Mengapa Deforestasi Berkontribusi pada Banjir Bandang?

Ketika hutan ditebang, “spons” raksasa ini menghilang. Intersepsi menurun drastis, serasah menghilang, dan tanah menjadi padat dan kedap air. Akibatnya, 500.000 liter (atau lebih) air per hektar yang tadinya tertahan dan meresap perlahan, kini mengalir deras di permukaan tanah dalam waktu yang singkat. Bila luasan hutan yang gundul seluas 1000 hektar maka ada 500.000.000 (500 juta kubik) air hujan yang langsung masuk ke dalam badan Sungai.

Inilah korelasi sesungguhnya dengan banjir bandang: bukan setetes air di daun yang menyebabkan banjir, melainkan hilangnya jutaan daun dan seluruh ekosistem pendukung yang membuat air hujan mengalir tak terkendali.

Kesimpulan

Meskipun “teori setetes air di daun menyebabkan banjir bandang” adalah analogi yang dramatis, premis di baliknya sangat kuat. Hutan memiliki kapasitas luar biasa untuk mengelola dan menyimpan air hujan. Menjaga tutupan hutan bukan sekadar masalah konservasi keanekaragaman hayati, tetapi merupakan investasi penting dalam mitigasi bencana alam, perlindungan sumber daya air, dan menjaga keseimbangan hidrologis wilayah kita.

Penulis : Benny Hidayat

The post Teori Setetes Air di Daun appeared first on HaKI.

]]>
Kabar Baik untuk Warga Palembang! Sampah Kita Ternyata Emas! https://hutaninstitute.or.id/kabar-baik-untuk-warga-palembang-sampah-kita-ternyata-emas/ Tue, 25 Nov 2025 05:55:54 +0000 https://hutaninstitute.or.id/?p=7830 Hutan Kita Institute (HaKI) bersama Unika Musi Charitas menemukan bahwa masalah sampah di Kota Palembang bisa diubah menjadi solusi energi dan uang. Intinya, sampah yang selama ini menumpuk di TPA ternyata punya potensi senilai Rp 1,97 Triliun! 1. Masalah Besar yang Kita Hadapi Setiap hari, Palembang membuang sekitar 1.200 ton sampah. Sampah ini ditumpuk begitu […]

The post Kabar Baik untuk Warga Palembang! Sampah Kita Ternyata Emas! appeared first on HaKI.

]]>
Hutan Kita Institute (HaKI) bersama Unika Musi Charitas menemukan bahwa masalah sampah di Kota Palembang bisa diubah menjadi solusi energi dan uang. Intinya, sampah yang selama ini menumpuk di TPA ternyata punya potensi senilai Rp 1,97 Triliun!

1. Masalah Besar yang Kita Hadapi

Setiap hari, Palembang membuang sekitar 1.200 ton sampah. Sampah ini ditumpuk begitu saja (open dumping) di TPA Sukawinatan dan Keramasan.

  • Penyebab Polusi: Sampah organik (sisa makanan) yang menumpuk membusuk dan melepaskan gas metana. Gas ini adalah polusi udara yang 25 kali lebih jahat daripada CO2 dan memperburuk pemanasan global.
  • Potensi Kerugian: Jika ini dibiarkan, kerugian lingkungannya dinilai setara 65.888ton CO2 e , atau setara potensi pendapatan Rp 1,97  Triliun yang terbuang.

2. Solusi Murah, Manfaat Langsung ke Dapur Warga

HaKI menemukan bahwa kita tidak perlu membangun pabrik sampah mahal ber-triliun-triliun rupiah untuk mengatasi masalah ini8. Solusinya justru ada di tingkat Rukun Warga (RW) dan Kelurahan, dengan teknologi yang murah dan sederhana:

Jenis SampahTeknologi Solusi (Murah dan Sederhana)Manfaat Langsung untuk Warga
Organik (Sisa Makanan, 40,8%)Biodigester Komunal (Tong tertutup)Menghasilkan GAS GRATIS untuk memasak (pengganti LPG 3kg). Potensinya setara dengan 2,3 juta tabung LPGsetahun!
Anorganik (Plastik, 20,4%)RDF(Dibuat briket sampah)Briket ini dijual ke pabrik semen atau industri lain sebagai pengganti batu bara , menjadi sumber pendapatan bagi komunitas.

3. Strategi Kunci: Kelompok Energi Mandiri Sampah (KEMS)

Agar program ini berjalan lancar dan berkelanjutan, HaKI merekomendasikan pembentukan Kelompok Energi Mandiri Sampah (KEMS) di setiap RW/Kelurahan.

  • KEMS ini akan menjadi semacam “BUMDes Energi” lokal
  • Tugasnya: Mengelola Biodigester, menjual pupuk cair (sisa olahan Biodigester), dan mendistribusikan gas/token energi ke warga.
  • Intinya: Sampah berubah dari masalah sanitasi menjadi aset ekonomi yang menciptakan lapangan kerja lokal.

4. HaKI Mendorong Pemerintah Ambil Langkah Cepat

HaKI meminta Pemerintah Kota Palembang untuk segera:

  1. Stop Beli Alat Mahal: Lebih baik dana diarahkan untuk pengadaan Biodigester komunal dan mesin RDF sederhana.
  2. Permudah Aturan Gas Rakyat: Buat peraturan yang memudahkan komunitas mengalirkan gas hasil sampah (bio-methane) ke rumah-rumah tetangga tanpa birokrasi yang rumit.
  3. Jamin Pembeli: Fasilitasi kontrak agar briket sampah (RDF) yang diproduksi komunitas pasti dibeli oleh industri seperti PT Semen Baturaja.

Dengan langkah ini, biaya operasional sampah kota akan turun, TPA menjadi lebih awet , dan Palembang bisa cepat mencapai target kota rendah karbon.

The post Kabar Baik untuk Warga Palembang! Sampah Kita Ternyata Emas! appeared first on HaKI.

]]>
CAHAYA DARI KAMPUS HIJAU: HaKI dan UMP Resmi Luncurkan Program “Kampus Energi Bersih” https://hutaninstitute.or.id/cahaya-dari-kampus-hijau-haki-dan-ump-resmi-luncurkan-program-kampus-energi-bersih/ Tue, 25 Nov 2025 05:46:52 +0000 https://hutaninstitute.or.id/?p=7820 Dalam langkah progresif mewujudkan tata kelola sumber daya alam yang berkeadilan dan berkelanjutan, Hutan Kita Institute (HaKI) bersama Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) secara resmi meluncurkan Program “Kampus Energi Bersih” hari ini. Peluncuran ini menegaskan komitmen kedua institusi dalam mendukung transisi energi bersih dan meningkatkan kesadaran iklim di lingkungan akademik. Misi Nyata HaKI: Transformasi dan Keadilan […]

The post CAHAYA DARI KAMPUS HIJAU: HaKI dan UMP Resmi Luncurkan Program “Kampus Energi Bersih” appeared first on HaKI.

]]>
Dalam langkah progresif mewujudkan tata kelola sumber daya alam yang berkeadilan dan berkelanjutan, Hutan Kita Institute (HaKI) bersama Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) secara resmi meluncurkan Program “Kampus Energi Bersih” hari ini. Peluncuran ini menegaskan komitmen kedua institusi dalam mendukung transisi energi bersih dan meningkatkan kesadaran iklim di lingkungan akademik.

Misi Nyata HaKI: Transformasi dan Keadilan

Direktur Eksekutif HaKI, Deddy Permana, S.Si, M.P. menyampaikan bahwa peluncuran program ini merupakan implementasi nyata dari misi organisasi untuk mendorong transformasi energi yang berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT).

“HaKI percaya bahwa perjuangan pelestarian hutan harus sejalan dengan upaya mitigasi perubahan iklim melalui transisi energi yang adil. Program ‘Kampus Energi Bersih’ adalah wujud nyata gotong royong dan konsistensi kami dalam melakukan pendidikan dan pengorganisasian untuk mewujudkan cita-cita tersebut,” ujar beliau dalam sambutannya.

Program ini bertujuan ganda: secara fisik untuk mengurangi jejak karbon kampus dan secara substansial untuk menjadikan UMP sebagai Laboratorium Energi Terbarukan bagi Sumatera Selatan.

Fokus pada Edukasi dan Kapasitas

Peluncuran program ini diawali dengan Penandatanganan Memoranduf of Agrement(MoA) antara HaKI dan UMP dan dilanjutkan Talkshow interaktif bertema energi bersih, sebagai fase awal untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat — khususnya mahasiswa dan staf — dalam pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Inisiatif ini dirancang untuk:

  • Mendorong UMP untuk mengambil langkah tegas dalam mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
  • Memperluas pemahaman mengenai pentingnya energi terbarukan dan dampaknya pada konservasi sumber daya alam.
  • Menjadikan UMP pusat pembelajaran yang aktif dalam isu iklim dan energi.

Langkah Selanjutnya: Dari Talkshow ke Aksi

“Keberhasilan peluncuran ini menegaskan kembali bahwa UMP dan HaKI memiliki cita-cita yang sama untuk menjadi garda terdepan pelestarian dan perlindungan ekosistem,” tambah Direktur HaKI.

Setelah peluncuran program dan talkshow, HaKI akan melanjutkan dengan implementasi inisiatif lainnya, mengikuti jejak keberhasilan yang telah dicapai di kampus lain di Sumatera Selatan. HaKI mengajak seluruh pihak, baik akademisi, masyarakat sipil, maupun mitra, untuk terus bergotong royong dan mendukung perluasan Program “Kampus Energi Bersih” ke kampus-kampus lainnya di Sumatera Selatan.

The post CAHAYA DARI KAMPUS HIJAU: HaKI dan UMP Resmi Luncurkan Program “Kampus Energi Bersih” appeared first on HaKI.

]]>
Warta Hutan Kita ” Petani Perhutanan Sosial Tingkatkan Kualitas dan Melek Pasar “ https://hutaninstitute.or.id/warta-hutan-kita-petani-perhutanan-sosial-tingkatkan-kualitas-dan-melek-pasar/ Sat, 08 Nov 2025 17:58:01 +0000 https://hutaninstitute.or.id/?p=7815 Tipe : Ebook Judul : Petani Perhutanan Sosial Tingkatkan Kualitas dan Melek Pasar Edisi : II 2022

The post Warta Hutan Kita ” Petani Perhutanan Sosial Tingkatkan Kualitas dan Melek Pasar “ appeared first on HaKI.

]]>
Tipe : Ebook

Judul : Petani Perhutanan Sosial Tingkatkan Kualitas dan Melek Pasar

Edisi : II 2022

The post Warta Hutan Kita ” Petani Perhutanan Sosial Tingkatkan Kualitas dan Melek Pasar “ appeared first on HaKI.

]]>
Warta Hutan Kita “Berdayakan Masyarakat Dengan Kemitraan Konservasi” https://hutaninstitute.or.id/warta-hutan-kita-berdayakan-masyarakat-dengan-kemitraan-konservasi/ Tue, 04 Nov 2025 09:04:59 +0000 https://hutaninstitute.or.id/?p=7801 Tipe : Ebook PDF Judul : Berdayakan Masyarakat Dengan Kemitraan Konservasi Edisi : V 2018

The post Warta Hutan Kita “Berdayakan Masyarakat Dengan Kemitraan Konservasi” appeared first on HaKI.

]]>

Tipe : Ebook PDF

Judul : Berdayakan Masyarakat Dengan Kemitraan Konservasi

Edisi : V 2018

The post Warta Hutan Kita “Berdayakan Masyarakat Dengan Kemitraan Konservasi” appeared first on HaKI.

]]>
Warta Hutan Kita “Kaum Benua Mengunjungi Sembilang” https://hutaninstitute.or.id/warta-hutan-kita-kaum-benua-mengunjungi-sembilang/ Tue, 04 Nov 2025 08:42:27 +0000 https://hutaninstitute.or.id/?p=7793 Tipe : Ebook Judul : Kaum Benua Mengunjungi Sembilang Edisi : III 2018

The post Warta Hutan Kita “Kaum Benua Mengunjungi Sembilang” appeared first on HaKI.

]]>

Tipe : Ebook

Judul : Kaum Benua Mengunjungi Sembilang

Edisi : III 2018

The post Warta Hutan Kita “Kaum Benua Mengunjungi Sembilang” appeared first on HaKI.

]]>
Warta Hutan Kita ” Kolaborasi PERHUTSOS Selaraskan Kesejahteraan Lingkungan dan Budaya “ https://hutaninstitute.or.id/warta-hutan-kita-kolaborasi-perhutsos-selaraskan-kesejahteraan-lingkungan-dan-budaya/ Tue, 04 Nov 2025 07:53:49 +0000 https://hutaninstitute.or.id/?p=7782 Tipe : Ebook Judul : Kolaborasi PERHUTSOS Selaraskan Kesejahteraan Lingkungan dan Budaya Edisi : III 2023

The post Warta Hutan Kita ” Kolaborasi PERHUTSOS Selaraskan Kesejahteraan Lingkungan dan Budaya “ appeared first on HaKI.

]]>
Tipe : Ebook

Judul : Kolaborasi PERHUTSOS Selaraskan Kesejahteraan Lingkungan dan Budaya

Edisi : III 2023

The post Warta Hutan Kita ” Kolaborasi PERHUTSOS Selaraskan Kesejahteraan Lingkungan dan Budaya “ appeared first on HaKI.

]]>
Warta Hutan Kita ” Karhutla Berulang Ulang Tidak Bisa Dibiarkan” https://hutaninstitute.or.id/warta-hutan-kita-karhutla-berulang-ulang-tidak-bisa-dibiarkan/ Tue, 04 Nov 2025 07:35:08 +0000 https://hutaninstitute.or.id/?p=7780 Tipe : Ebook Judul : Karhutla berulang Ulang Tidak Bisa Dibiarkan Edisi : IV 2023

The post Warta Hutan Kita ” Karhutla Berulang Ulang Tidak Bisa Dibiarkan” appeared first on HaKI.

]]>
Tipe : Ebook

Judul : Karhutla berulang Ulang Tidak Bisa Dibiarkan

Edisi : IV 2023

The post Warta Hutan Kita ” Karhutla Berulang Ulang Tidak Bisa Dibiarkan” appeared first on HaKI.

]]>
Kolaborasi Kunci Sukses Perhutanan Sosial https://hutaninstitute.or.id/kolaborasi-kunci-sukses-perhutanan-sosial/ Tue, 04 Nov 2025 07:01:27 +0000 https://hutaninstitute.or.id/?p=7767 The post Kolaborasi Kunci Sukses Perhutanan Sosial appeared first on HaKI.

]]>
  • Ebook : Warta Hutan Kita
  • Judul : Kolaborasi Kunci Sukses Perhutanan Sosial
  • Edisi : Desember 2021
  • The post Kolaborasi Kunci Sukses Perhutanan Sosial appeared first on HaKI.

    ]]>