elnino Archives | HaKI https://hutaninstitute.or.id/perhutanansosial/elnino/ Perkumpulan Hutan Kita Institute Sun, 02 Nov 2025 10:23:04 +0000 en-US hourly 1 https://hutaninstitute.or.id/wp-content/uploads/2025/09/cropped-haki-logo-32x32.png elnino Archives | HaKI https://hutaninstitute.or.id/perhutanansosial/elnino/ 32 32 Api Membakar Lahan di Sumatera Selatan, Penanggulangan Harus Cepat https://hutaninstitute.or.id/karhutla-sumsel-perlu-penanggulangan-cepat/ Thu, 07 Sep 2023 03:16:50 +0000 https://hutaninstitute.or.id/?p=6448 “Api sudah beguyur membakar lahan di Sumatera Selatan, semua pihak harus waspada (Karhutla – Kebakaran Hutan dan Lahan),” kata Deddy Permana, Direktur HaKI [Hutan Kita Institut], Selasa [05/09/2023]. Beguyur dalam bahasa Palembang artinya “mulai pelan-pelan”. Hampir setiap hari dalam sebulan terakhir, beberapa helikopter melakukan water bombing di sejumlah lahan yang terbakar di Kabupaten Ogan Komering […]

The post Api Membakar Lahan di Sumatera Selatan, Penanggulangan Harus Cepat appeared first on HaKI.

]]>
“Api sudah beguyur membakar lahan di Sumatera Selatan, semua pihak harus waspada (Karhutla – Kebakaran Hutan dan Lahan),” kata Deddy Permana, Direktur HaKI [Hutan Kita Institut], Selasa [05/09/2023]. Beguyur dalam bahasa Palembang artinya “mulai pelan-pelan”.

Hampir setiap hari dalam sebulan terakhir, beberapa helikopter melakukan water bombing di sejumlah lahan yang terbakar di Kabupaten Ogan Komering Ilir [OKI, Kabupaten Banyuasin, dan Kabupaten Ogan Ilir [OI], Sumatera Selatan. Sementara udara di Palembang, saat ini mulai dipenuhi kabut asap.

Sekitar tiga hektar lahan rawa gambut di Desa Tanjung Seteko, Kecamatan Inderalaya, Kabupaten Ogan Ilir, pada Sabtu [02/09/2023], terbakar. Kebakaran di lokasi tersebut terjadi berulang dalam sebulan ini.

Pertama, terjadi pada Jumat [12/8/2022], dan kedua, pada Minggu [27/08/2023] lalu sekitar 10 hektare lahan terbakar.

Selama terbakar, upaya pemadaman dilakukan Manggala Agni bersama BPBD Ogan Ilir dan TNI/Polri, serta masyarakat. Diduga, kebakaran ini terkait aktivitas perkebunan atau pertanian.

Berdasarkan siaran pers Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan [PKHL], Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, hingga 2 September 2023, tercatat 83 titik panas [hotspot] di Sumatera Selatan. Pada 1-2 September 2023, terpantau 18 titik.

Luas lahan terbakar di Sumatera Selatan periode 1 Januari-31 Juli 2023 sekitar 1.178,50 hektar. Kabupaten Ogan Komering Ilir [OKI] paling luas, sekitar 874,9 hektar. Sementara lahan gambut terbakar seluas 310,5 hektar yang berada di Kabupaten OKI. Lokasinya di Desa Serdang dan Desa Jungkal, Kecamatan Pampangan, serta di Desa Perigi, Kecamatan Pangkalan Lampam.

Berikut sebaran lahan terbakar; Kabupaten Muaraenim [56,7 hektar], Kabupaten Musi Banyuasin [42,1 hektar], Kabupaten Musi Rawas [8 hektar], Kabupaten Musi Rawas Utara [115,9 hektar], Kabupaten Ogan Ilir [36 hektar], Kabupaten Ogan Komering Ilir [874,4 hektar], Kabupaten Ogan Komering Ulu [18,8 hektar], Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan [2,5 hektar], dan Kabupaten PALI [5,4 hektar].

Dibandingkan periode yang sama tahun 2021 dan 2022, kebakaran di Sumatera Selatan mengalami penurunan. Pada 2021 kebakaran lahan seluas 1.298,2 hektar dan tahun 2022 seluas 2.445,6 hektar.

“Luas karhutla tahun 2023 di wilayah Sumatera Selatan masih terdapat akumulasi penurunan sebesar 1.267,12 hektar atau sebanyak 51,8 persen,” tulis siaran pers yang ditandatangani Thomas Nifinluri, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan [PKHL].

Karthutla besar mengancam

Selama dua tahun [2020-2021], Sumatera Selatan dan beberapa daerah lain di Indonesia, bebas dari bencana kebakaran hutan dan lahan [karhutla]. Sebab selama dua tahun itu, terjadi La Nina.

Karhutla di Sumatera Selatan diduga dampak dari aktivitas perkebunan dan pertanian. Foto: Ahmad Rizki Prabu / Mongabay.co.id

Tapi, kemarau panjang yang disertai El-Nino pada 2023 ini, karhutla kembali mengancam Sumatera Selatan. Bukan tidak mungkin Sumatera Selatan menjadi wilayah karhutla terluas di Indonesia. Sebab, berdasarkan pemantauan Mongabay Indonesia selama Agustus 2023, sebagian besar lahan basah di Sumatera Selatan mengalami kekeringan.

Pada perideo 2015-2019, Sumatera Selatan menjadi provinsi yang mengalami karhutla terluas di Indonesia, mencapai 1.011.733,97 hektar. Lebih tinggi dibandingkan Kalimantan Tengah [956.907,25 hektar], Papua [761.081,12 hektar], Kalimantan Selatan [443.655,03 hektar], Kalimantan Barat [329.998,35 hektar], Riau [250.369,76 hektar], dan Jambi [182.195,51] hektar.

Pada 2015, Sumatera Selatan mengalami karhutla seluas 646.298,80 hektar. Tahun 2018 seluas 16.226, 60 hektar dan 2019 seluas 336.778 hektar.

Seorang warga Desa Tanjung Seteko, Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, turut memandamkan api di lahan yang terbakar. Foto: Ahmad Rizki Prabu.

Masalah Berulang

Sementara, kualitas udara di Palembang berdasarkan website indeks kualitas udara di iqair, pada Minggu [03/09/2023] sempat dalam kualitas tidak sehat, pada angka 151. Sementara hari ini, indeks kualitas udara mencapai angka 158 dengan polutan PM2.5.

“Keberadaan kualitas udara PM2.5 di Kota Palembang saat ini sudah sempat di angka 150-an yang mengindikasikan tidak sehat. Tentunya, penyebab utama adalah asap dan debu karhutla yang dominan terjadi di wilayah Kabupaten OI dan OKI,” kata Deddy.

Dijelaskan Deddy, karhutla ini sudah berulang terjadi, “Bahkan lokasinya juga mengulang pada tempat yang sama. Melihat kejadian ini, seharusnya sudah dapat dicegah dan diantisipasi sejak dini, apalagi sudah ada peringatan dari BMKG akan hadirnya El-Nino hingga Oktober 2023.”

Pencegahan dan penanggulangan karhutla, diperlukan keseriusan dan kolaborasi semua pihak. Mulai dari pemerintah pusat hingga ke tapak [desa].

Minimnya sumber air menyebabkan upaya pemandaman karhutla melalui darat tidak optimal. Foto: Ahmad Rizki Prabu / mongabay.co.id

“Dengan kondisi musim kemarau disertai El-Nino, diperlukan sebuah kesiapan yang matang. Baik sarana dan prasarana, pembiayaan operasional, serta menggerakan organisasi sampai ke tingkat tapak,” kata Deddy.

HaKI menyatakan, dari 14 kabupaten dan kota di Sumatera Selatan, hanya di Kota Palembang, yang belum ditemukan titik panas [hotspot] dan titik api [firespot].

“Berdasarkan data satelit Terra/Aqua-Modis, Kabupaten OKI dengan jumlah tertinggi hotspot [183] dan firespot [62] di Sumatera Selatan. Secara keseluruhan, ada 314 hotspot dan 93 firespot di Sumatera Selatan,” kata Deddy.

Rinciannya, Kabupaten Muba [47 hotspot, 16 firespot]; Kabupaten Ogan Ilir [16 hotspot, 5 firespot], Kabupaten Musirawas Utara [12 hotspot, 4 firespot], Kabupaten Musirawas [12 hotspot, 2 firespot], Kabupaten Lahat [10 hotspot, 3 firespot], dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur [2 hotspot, 1 firespot]. (*)

The post Api Membakar Lahan di Sumatera Selatan, Penanggulangan Harus Cepat appeared first on HaKI.

]]>
Dunia Bersiap El Nino, Bagaimana Indonesia https://hutaninstitute.or.id/dunia-bersiap-el-nino-bagaimana-indonesia/ Fri, 12 May 2023 08:58:44 +0000 https://hutaninstitute.or.id/?p=6288 Kemungkinan El Nino berkembang akhir tahun ini semakin meningkat, menurut rilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO). Hal ini bisa berdampak berlawanan pada pola cuaca dan iklim di beberapa wilayah di dunia. Hingga La Niña yang berlangsung lama dan kemungkinan akan memicu suhu global yang lebih tinggi. Dunia harus bersiap menghadapi El Nino, bagaimana Indonesia ? La […]

The post Dunia Bersiap El Nino, Bagaimana Indonesia appeared first on HaKI.

]]>
Kemungkinan El Nino berkembang akhir tahun ini semakin meningkat, menurut rilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO). Hal ini bisa berdampak berlawanan pada pola cuaca dan iklim di beberapa wilayah di dunia. Hingga La Niña yang berlangsung lama dan kemungkinan akan memicu suhu global yang lebih tinggi. Dunia harus bersiap menghadapi El Nino, bagaimana Indonesia ?

La Niña yang luar biasa kini telah berakhir setelah berjalan selama tiga tahun dan Pasifik tropis saat ini berada dalam keadaan ENSO-netral (baik El Niño maupun La Niña).

Ada peluang 60% untuk transisi dari ENSO-netral ke El Niño selama Mei-Juli 2023. Ini akan meningkat menjadi sekitar 70% pada Juni-Agustus dan 80% antara Juli dan September. Data ini berdasarkan atas masukan dari Pusat Produksi Global WMO untuk Prakiraan Jangka Panjang dan penilaian pakar.

Pada tahap ini tidak ada indikasi kekuatan atau durasi El Niño.

“Kita baru saja mengalami delapan tahun terpanas. Meskipun mengalami La Niña yang mendingin selama tiga tahun terakhir dan ini bertindak sebagai rem sementara pada kenaikan suhu global. Perkembangan El Niño kemungkinan besar akan menyebabkan lonjakan baru dalam pemanasan global dan meningkatkan peluang untuk memecahkan rekor suhu,” kata Sekretaris Jenderal WMO Prof. Petteri Taalas.

Menurut laporan Keadaan Iklim Global WMO, 2016 adalah tahun terhangat yang tercatat karena “pukulan ganda” dari peristiwa El Nino yang sangat kuat dan pemanasan akibat gas rumah kaca yang disebabkan oleh manusia. Efek pada suhu global biasanya muncul pada tahun setelah perkembangannya dan kemungkinan besar akan terlihat paling jelas pada tahun 2024.

“Dunia harus bersiap menghadapi perkembangan El Niño. Terkait dengan peningkatan panas, kekeringan, atau curah hujan di berbagai belahan dunia. Ini mungkin membawa kelonggaran dari kekeringan di Tanduk Afrika dan dampak terkait La Niña lainnya. Tetapi juga dapat memicu peristiwa cuaca dan iklim yang lebih ekstrem. Ini menyoroti perlunya inisiatif Peringatan Dini PBB untuk Semua untuk menjaga orang tetap aman, ”kata Prof. Taalas.

Tidak ada dua peristiwa El Niño yang sama dan pengaruhnya sebagian bergantung pada waktu dalam setahun. Oleh karena itu, WMO dan Layanan Hidrologi Meteorologi Nasional akan memantau perkembangan dengan cermat.

Dampak Khas

El Nino adalah pola iklim alami yang terkait dengan pemanasan suhu permukaan laut di tengah dan timur Samudera Pasifik tropis. Itu terjadi rata-rata setiap dua hingga tujuh tahun, dan episode biasanya berlangsung sembilan hingga 12 bulan.

Peristiwa El Nino biasanya dikaitkan dengan peningkatan curah hujan. Seperti di beberapa bagian selatan Amerika Selatan, Amerika Serikat bagian selatan, Tanduk Afrika, dan Asia Tengah.

Sebaliknya, El Nino juga dapat menyebabkan kekeringan parah di Australia, Indonesia, dan sebagian Asia selatan.

Selama musim panas Boreal, air hangat El Niño dapat memicu badai di tengah/timur Samudra Pasifik, sementara itu menghambat pembentukan badai di Cekungan Atlantik.

Pembaruan Iklim Musiman GlobalEl Niño dan La Niña adalah penyebab utama – tetapi bukan satu-satunya – penggerak sistem iklim bumi.

Selain data ENSO yang telah lama ada, WMO sekarang juga mengeluarkan Global Seasonal Climate Updates (GSCU) reguler, yang menggabungkan pengaruh dari penggerak iklim utama lainnya seperti Osilasi Atlantik Utara, Osilasi Arktik, dan Dipol Samudra Hindia.

“Karena suhu permukaan laut yang lebih hangat dari rata-rata umumnya diprediksi di wilayah samudra. Berkontribusi pada prediksi luas suhu di atas normal di wilayah daratan. Tanpa kecuali, anomali suhu positif diperkirakan terjadi di semua wilayah daratan di belahan bumi utara dan selatan, ”kata pembaruan terbaru.

WMO ENSO dan Global Seasonal Climate Updates didasarkan pada prakiraan dari Pusat Prakiraan Jangka Panjang Global Producing WMO dan tersedia untuk mendukung pemerintah, PBB, pembuat keputusan, dan pemangku kepentingan di sektor sensitif iklim. Peringatan El Nino ini untuk memobilisasi persiapan dan melindungi kehidupan dan mata pencaharian, termasuk di Indonesia.

Perkembangan terkini

Sejak Februari 2023 dan seterusnya, telah terjadi peningkatan suhu permukaan laut yang signifikan di Pasifik Khatulistiwa. Pemanasan yang lebih kuat terjadi di sepanjang pantai Amerika Selatan.

Mulai pertengahan April 2023, suhu permukaan laut serta indikator atmosfer dan samudra lainnya di Pasifik tropis timur tengah konsisten dengan kondisi netral ENSO. Di atmosfer, aktivitas konvektif di Pasifik ekuator dekat garis penanggalan mendekati normal.

Perlu dicatat bahwa ‘penghalang prediktabilitas musim semi’ Belahan Bumi Utara, suatu periode yang ditandai dengan keterampilan prediktif yang agak rendah, belum berlalu. Namun demikian, perkembangan terbaru dalam kondisi kelautan dan atmosfer di Pasifik tropis, bersama dengan prediksi saat ini dan penilaian para ahli, menunjukkan kemungkinan kuat terjadinya El Niño pada awal paruh kedua tahun 2023, dan kelanjutannya selama sisa enam tahun periode perkiraan bulan.

sumber : WMO Update: Prepare for El Niño

The post Dunia Bersiap El Nino, Bagaimana Indonesia appeared first on HaKI.

]]>